Apa Itu Konten Evergreen?

Aku akhir-akhir ini cukup sering melihat pembahasan soal konten evergreen di media sosial. Istilah ini memang bukan sesuatu yang baru, tapi konsepnya akan semakin terasa dan relevan ketika membuat konten tidak bisa terus-terusan bergantung pada tren.

Jadi, sederhananya, konten evergreen adalah konten yang tetap relevan dan berguna meskipun sudah lama dipublikasikan. Konten seperti tutorial dasar, tips, FAQ, atau penjelasan tentang sesuatu yang tidak cepat berubah termasuk contohnya.

Contoh Konten Evergreen

Misalnya sebuah akun kursus membuat konten “Apa Bedanya Frontend dan Backend?”. Topik ini sudah jelas tidak mengikuti tren tertentu yang sedang naik saat itu karena masih bisa dicari dan ditonton bahkan setelah berbulan-bulan atau tahunan!

Aku juga bisa melihat contohnya dari pekerjaan sehari-hari saat sering keluar masuk media sosial DUMET School. Di TikTok dan YouTube DUMET School, hampir setiap hari masih ada saja notifikasi like, save, atau tambahan views dari video-video lama. Memang angkanya tidak selalu meledak seperti video yang sedang viral, tapi tetap ada orang yang menemukan dan menontonnya.

Dari contoh case ini, sudah jelas kelihatan bahwa sebuah video tidak selalu selesai masa hidupnya setelah beberapa hari. Selama topiknya masih dicari, video lama tetap punya kesempatan untuk ditemukan oleh orang yang memang sedang membutuhkan informasi tersebut.

Contoh lainnya:

  • Cara membuat CV yang lebih rapi
  • Tips mengambil foto produk dengan HP
  • Istilah digital marketing yang perlu diketahui pemula
  • Cara memilih ukuran gambar untuk media sosial
  • Kesalahan umum saat membuat website

Masalahnya, konten evergreen sering identik dengan konten edukasi. Sementara di media sosial, konten yang terasa seperti sedang mengajari orang bisa saja kurang menarik perhatian. Nah, di sinilah UGC bisa ikut dimainkan.

Gabungkan Evergreen dengan UGC

User-Generated Content atau UGC pada dasarnya adalah konten yang dibuat dari sudut pandang pengguna. Format seperti pengalaman pribadi, review, cerita, atau demonstrasi penggunaan produk bisa terasa lebih natural dibandingkan materi promosi yang terlalu rapi.

Beberapa riset juga menunjukkan bahwa UGC dapat membantu membangun kepercayaan karena dianggap lebih autentik dan memberikan validasi dari sudut pandang pengguna.

Jadi, daripada membuat konten:

“5 Kesalahan Saat Membuat Website yang Harus Dihindari!”

bisa diubah menjadi:

“Pantesan Banyak yang Ga Betah Lama di Websiteku, Ternyata Karena Ini!”

Lalu di dalam videonya, kita tetap membahas lima kesalahan tersebut.

Informasinya masih evergreen, tapi kemasannya terasa seperti cerita atau pengalaman seseorang.

Begitu juga dengan konten “Tips Foto Produk”. Daripada tampil seperti tutorial, bisa dibuat menjadi video before-after, proses mencoba beberapa cara, atau pengalaman seseorang saat mencari cara agar foto produknya terlihat lebih bagus.

Menurutku, kombinasi seperti ini membuat konten evergreen terasa lebih cocok dengan karakter media sosial. Informasinya tetap bisa digunakan dalam jangka panjang, tapi penyampaiannya tidak harus terasa seperti sedang duduk di ruang kelas.

Jadi, konten evergreen nggak harus selalu serius dan penuh tulisan. Yang membuatnya bisa bertahan lama adalah topiknya, sementara cara menyampaikannya bisa dibuat santai, personal, relatable, bahkan sedikit menghibur.

Sudah paham ya? Semoga artikel Apa Itu Konten Evergreen? Begini Cara Bikin yang Nggak Terasa Menggurui ini bermanfaat!

6 Oktober 2026

Webinar Gratis 2024


Selanjutnya Pada Bulan Maret 2024

Sabtu, 09 Maret 2024


10 Bahasa Rekomendasi Untuk Dipelajari di 2024

Python Developer, Data Science, Web Application

Kursus Python Django Web Application 2024 di DUMET School Mini Bootcamp Backend Laravel 11 Bulan Mei 2024 di DUMET School
Webinar Selanjutnya Mei 2024

Minggu, 26 Mei 2024, 09.00-13.00 WIB

(4 Jam Membuat Backend di Laravel 11)

chat