Teknologi Oculus Rift Untuk Museum

Museum selalu diasosiasikan dengan menengok ke masa lalu, mempelajari perjalanan manusia, teknologi yang dipakai, hingga proses geologi yang berlangsung ribuan tahun silam. Semua bisa dipelajari dengan mendatangi bangunan museum, mendatangi satu demi satu barang yang diperagakan sembari membaca keterangannya.

Meskipun tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk masuk ke museum, minat kunjungan belum menggembirakan. Padahal, setidaknya terdapat 275 museum yang tersebar di seluruh Indonesia dan kebanyakan hanya diselimuti debu karena sepi pengunjung. Paling yang berkunjung ke museum hanya saat kunjungan siswa sekolah atau sebagian orangtua yang memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di museum.

Bagaimana membuat museum tetap relevan di zaman digital seperti ini? Mendekatkannya ke anak muda, tentu harus dengan teknologi.

Itulah yang dilakukan sekitar 30 orang yang tergabung dalam Studio Anantarupa sewaktu memperkenalkan Virtual Reality Museum di tengah perhelatan Museum Week di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Proyek tersebut berupaya menghadirkan koleksi museum tanpa harus seseorang melangkahkan kaki. Wah ga bisa kebayang guys melihat koleksi di museum tanpa melangkahkan kaki.

Nah, ternyata ada caranya yakni dengan memanfaatkan teknologi Oculus Rift, sebuah perangkat virtual reality berupa kacamata yang dipasang menutupi separuh wajah bagian atas. Di dalamnya, mata pengguna akan tertuju pada layar yang menampilkan gambar tiga dimensi dan memberikan respons sesuai arah pandangan berdasarkan sensor accelerometer dan gyroscope. Selain perangkat tersebut, masih ada penyuara kuping untuk mendengarkan narasi dari tampilan virtual reality tersebut.

Sewaktu dikenakan, yang tersaji di dalam mata adalah sebuah ruang bundar berisi 10 arca dari era Kerajaan Majapahit yang dipajang berjajar serta dua pintu besar yang membelah ruangan. Untuk berinteraksi dengan koleksi tersebut, pandangan mata hanya perlu difokuskan ke salah satu arca dan otomatis kita seolah bergerak mendekat dan mendengar deskripsi mengenai nama dan kisah di baliknya.

Sayangnya baru ada lima museum yang berhasil dipetakan, yakni Museum Bank Indonesia, Museum Pos Indonesia, Museum Konferensi Asia-Afrika, Museum Negeri NTB, dan Museum Puri Lukisan di Bali.

Tujuan dari digitalisasi museum ini bukanlah menggantikan peran mereka. Melainkan keberadaan teknologi ini diharapkan dapat mendorong kepedulian generasi muda bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dengan belajar ke museum. Dengan demikian, museum tetap menjadi pusat pendidikan tanpa harus tertinggal di masa lalu.

22 Mei 2014

Webinar Gratis 2024


Selanjutnya Pada Bulan Maret 2024

Sabtu, 09 Maret 2024


10 Bahasa Rekomendasi Untuk Dipelajari di 2024

Python Developer, Data Science, Web Application

Kursus Python Django Web Application 2024 di DUMET School Mini Bootcamp Backend Laravel 11 Bulan Mei 2024 di DUMET School
Webinar Selanjutnya Mei 2024

Minggu, 26 Mei 2024, 09.00-13.00 WIB

(4 Jam Membuat Backend di Laravel 11)

chat