Blog Request tutorial? klik disini!

  • Teknologi Oculus Rift Untuk Museum

    Ditulis oleh: Alfiana Irsyada Salma
    629 kali dibaca
    22 May / 2014 11:53

    Museum selalu diasosiasikan dengan menengok ke masa lalu, mempelajari perjalanan manusia, teknologi yang dipakai, hingga proses geologi yang berlangsung ribuan tahun silam. Semua bisa dipelajari dengan mendatangi bangunan museum, mendatangi satu demi satu barang yang diperagakan sembari membaca keterangannya.

    Meskipun tidak perlu merogoh kantong terlalu dalam untuk masuk ke museum, minat kunjungan belum menggembirakan. Padahal, setidaknya terdapat 275 museum yang tersebar di seluruh Indonesia dan kebanyakan hanya diselimuti debu karena sepi pengunjung. Paling yang berkunjung ke museum hanya saat kunjungan siswa sekolah atau sebagian orangtua yang memilih menghabiskan waktu bersama keluarga di museum.

    Bagaimana membuat museum tetap relevan di zaman digital seperti ini? Mendekatkannya ke anak muda, tentu harus dengan teknologi.

    Itulah yang dilakukan sekitar 30 orang yang tergabung dalam Studio Anantarupa sewaktu memperkenalkan Virtual Reality Museum di tengah perhelatan Museum Week di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Proyek tersebut berupaya menghadirkan koleksi museum tanpa harus seseorang melangkahkan kaki. Wah ga bisa kebayang guys melihat koleksi di museum tanpa melangkahkan kaki.

    Nah, ternyata ada caranya yakni dengan memanfaatkan teknologi Oculus Rift, sebuah perangkat virtual reality berupa kacamata yang dipasang menutupi separuh wajah bagian atas. Di dalamnya, mata pengguna akan tertuju pada layar yang menampilkan gambar tiga dimensi dan memberikan respons sesuai arah pandangan berdasarkan sensor accelerometer dan gyroscope. Selain perangkat tersebut, masih ada penyuara kuping untuk mendengarkan narasi dari tampilan virtual reality tersebut.

    Sewaktu dikenakan, yang tersaji di dalam mata adalah sebuah ruang bundar berisi 10 arca dari era Kerajaan Majapahit yang dipajang berjajar serta dua pintu besar yang membelah ruangan. Untuk berinteraksi dengan koleksi tersebut, pandangan mata hanya perlu difokuskan ke salah satu arca dan otomatis kita seolah bergerak mendekat dan mendengar deskripsi mengenai nama dan kisah di baliknya.

    Sayangnya baru ada lima museum yang berhasil dipetakan, yakni Museum Bank Indonesia, Museum Pos Indonesia, Museum Konferensi Asia-Afrika, Museum Negeri NTB, dan Museum Puri Lukisan di Bali.

    Tujuan dari digitalisasi museum ini bukanlah menggantikan peran mereka. Melainkan keberadaan teknologi ini diharapkan dapat mendorong kepedulian generasi muda bahwa banyak hal yang bisa dipelajari dengan belajar ke museum. Dengan demikian, museum tetap menjadi pusat pendidikan tanpa harus tertinggal di masa lalu.






Baca juga

Rukan Artha Gading Niaga Blok i - 23, Jalan Boulevard Artha Gading

Kelapa Gading, Jakarta Utara 14240

(Belakang Mall Artha Gading)

Telp: (021) 4585-0387


Ruko Permata Regensi Blok B - 18, Jalan Haji Kelik

Srengseng, Kebon Jeruk, Jakarta Barat 11630

(Depan Hutan Kota Srengseng)

Telp: (021) 5890-8355


Ruko Jalan Taman Daan Mogot Raya No. 23

Kel. Tanjung Duren Utara Kec. Grogol Petamburan, Jakarta Barat 11470

(Belakang Mall Citraland dan Kampus UNTAR II)

Telp: (021) 2941-1188


Ruko Jalan Kartini Raya No. 53

Pancoran Mas, Depok 16436

(± 5 Menit dari Kantor Walikota Depok)

Telp: (021) 7720-7657


Rukan Crown Palace Blok A no 12, Jl Prof Dr Soepomo no 231 (Samping Universitas Sahid).

Kec. Tebet, Kel. Menteng Dalam.

(± 1 Menit dari Tugu Pancoran)

Jakarta Selatan 12870

Telp: (021) 2298-3886

Buka setiap hari Senin - Minggu jam 09.00 s/d 21.00

SMS: 0851-0055-5666 / 0819-7555-666 / 0812-9933-3913 / 0812-9393-3210 / 0812-1999-9155